Kenaikan harga minyak hampir 1%, dengan kontrak berjangka untuk bulan Februari mencapai $72,02 per barel untuk Minyak Texas Barat, sementara kontrak berjangka untuk bulan Maret mencapai $77,41 per barel untuk Minyak Brent. Kenaikan ini dipicu oleh penyitaan kapal tanker oleh Iran sebagai balasan atas tindakan serupa yang dilakukan oleh AS pada tahun sebelumnya.
Dampak langsung dari kenaikan harga minyak ini menggambarkan ketidakpastian ekonomi global, terutama dalam konteks konflik geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dapat mempengaruhi biaya produksi dan transportasi di berbagai sektor ekonomi, memicu kekhawatiran terkait inflasi.
Terlebih lagi, ketegangan di wilayah tersebut diperparah oleh serangan besar-besaran yang dilakukan oleh milisi Houthi Yaman yang didukung oleh Iran terhadap jalur pelayaran komersial di Laut Merah. Ancaman terhadap rute perdagangan utama ini meningkatkan risiko ketidakstabilan ekonomi global, dengan potensi gangguan pasokan energi dan dampaknya terhadap pasar keuangan.
Reaksi AS dan Inggris yang mengisyaratkan kemungkinan tindakan lebih lanjut, serta resolusi Dewan Keamanan PBB, memberikan konteks pada potensi eskalasi dan dampaknya terhadap kestabilan ekonomi. Pemimpin kelompok Houthi yang menanggapi ancaman ini menunjukkan bahwa setiap eskalasi dapat memperburuk situasi, dengan implikasi yang lebih luas terhadap keseimbangan ekonomi global. Oleh karena itu, situasi ini memerlukan pemantauan ekonomi lebih lanjut karena dampaknya dapat merambah ke sektor-sektor ekonomi yang lebih luas di seluruh dunia.





