Pergerakan harga minyak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketersediaan pasokan, permintaan global, dan kebijakan pemerintah terkait energi dan lingkungan. pernyataan Menteri Energi AS Jennifer Granholm untuk isi ulang Cadangan Minyak Strategis (SPR) mungkin memakan waktu beberapa tahun dapat mempengaruhi harga minyak.
Cadangan Minyak Strategis AS adalah cadangan minyak mentah yang disimpan oleh pemerintah AS sebagai bagian dari strategi keamanan energi nasional. Pernyataan Granholm dapat diartikan sebagai tanda bahwa pasokan minyak mentah di AS mungkin tidak segera ditingkatkan dalam waktu dekat, sehingga menurunkan ekspektasi pasar terhadap ketersediaan pasokan yang lebih besar.
Reaksi pasar terhadap pernyataan Granholm ini dapat mengindikasikan bahwa para pelaku pasar sedang memperhatikan dengan cermat setiap pernyataan yang berkaitan dengan kebijakan energi AS dan menafsirkan implikasinya terhadap pasokan minyak mentah di masa depan. Meskipun kenaikan awal terjadi pada hari Kamis, 23 Maret 2023 namun kemudian harga minyak menetap 1% lebih rendah karena pengaruh pernyataan tersebut.
Komentar Menteri Energi AS Jennifer Granholm tentang kemungkinan waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ulang Cadangan Minyak Strategis (SPR) dapat menambah kekhawatiran tentang potensi kelebihan pasokan minyak mentah di pasar. Hal ini karena pelepasan tambahan 26 juta barel oleh Departemen Energi AS sebagai bagian dari mandat kongresnya juga akan menambah pasokan minyak mentah yang ada di pasar.
Jika terjadi kelebihan pasokan, maka harga minyak mentah cenderung turun karena penawaran lebih banyak daripada permintaan. Hal ini dapat menyebabkan kekhawatiran bagi produsen minyak dan investor yang memiliki eksposur pada industri energi. Sebagai hasilnya, pernyataan Granholm dapat memicu penurunan harga minyak mentah karena pasar mengkhawatirkan kemungkinan kelebihan pasokan di masa depan.
Analisis Giovanni Staunovo dari UBS mengatakan bahwa komentar Granholm meningkatkan kekhawatiran tentang potensi kelebihan pasokan, terutama mengingat rencana pelepasan tambahan 26 juta barel oleh Departemen Energi AS. Ini menunjukkan bahwa para analis pasar sedang memperhatikan setiap berita dan perkembangan yang terkait dengan pasokan minyak mentah untuk mengantisipasi pergerakan harga di masa depan.
Indeks dolar merupakan indikator yang mengukur kekuatan nilai dolar AS terhadap sekelompok mata uang utama lainnya. Pada hari setelah Federal Reserve mengisyaratkan akan menghentikan kenaikan suku bunga, indeks dolar diperdagangkan pada level terendah sejak 3 Februari. Hal ini dapat terjadi karena keputusan Federal Reserve untuk menahan kenaikan suku bunga dapat menurunkan daya tarik dolar bagi investor.
Ketika suku bunga AS turun, maka tingkat pengembalian dari instrumen keuangan denominasi dolar juga menurun. Hal ini dapat menurunkan minat investor untuk memegang mata uang dolar dan beralih ke instrumen keuangan lainnya. Akibatnya, hal ini dapat menyebabkan pelemahan nilai dolar dan membuat minyak berdenominasi dolar lebih menarik bagi pemegang mata uang asing.
Minyak mentah berdenominasi dolar adalah produk komoditas yang dihargai dalam dolar AS. Jadi, ketika nilai dolar AS melemah, maka harga minyak mentah dapat naik karena menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang asing. Sebaliknya, ketika nilai dolar naik, maka harga minyak mentah dapat turun karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing.
Keputusan Federal Reserve untuk menahan kenaikan suku bunga dapat mempengaruhi nilai dolar AS dan memicu pergerakan harga minyak mentah. Investor harus memperhatikan faktor-faktor ini dan memperhitungkan risiko yang terkait dengan pergerakan nilai dolar AS dan harga minyak mentah.
Jika Federal Reserve melakukan satu kenaikan suku bunga lagi tahun ini, hal itu dapat mengurangi tekanan inflasi karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi. Namun, ini juga dapat menurunkan daya beli konsumen dan investasi bisnis, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga dapat membuat dolar AS lebih menarik bagi investor dan mengurangi permintaan terhadap komoditas seperti minyak mentah, yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah di pasar global.
Harga bahan bakar berjangka RBOB yang mencapai level tertinggi 10 hari setelah Administrasi Informasi Energi AS mengatakan stok produk turun paling banyak minggu lalu sejak September 2021, mendukung harga minyak mentah karena bahan bakar adalah salah satu produk hasil olahan minyak mentah yang paling banyak dikonsumsi di dunia.
Penurunan stok produk, seperti bahan bakar dapat menunjukkan peningkatan permintaan atau penurunan produksi, yang dapat membuat harga naik. Selain itu, harga bahan bakar berjangka juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti fluktuasi harga minyak mentah dan faktor-faktor geopolitik yang mempengaruhi pasokan minyak mentah dan produksi bahan bakar.
Penurunan stok produk bahan bakar yang diumumkan oleh Administrasi Informasi Energi AS dapat memberikan dukungan tambahan pada harga minyak mentah karena dapat menunjukkan permintaan yang kuat atau penurunan produksi. Dalam situasi di mana permintaan bahan bakar meningkat, produsen minyak mentah dapat meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan tersebut, yang dapat meningkatkan harga minyak mentah secara keseluruhan.
Investor harus memperhatikan perkembangan terbaru dalam pasar minyak dan bahan bakar seperti fluktuasi harga minyak mentah, kebijakan produksi OPEC+, serta kondisi ekonomi dan politik global, karena hal-hal ini dapat mempengaruhi harga minyak mentah dan produk turunannya.
Penyebab utama kenaikan harga minyak mentah adalah peningkatan permintaan dari kilang-kilang yang memproduksi bahan bakar, seperti bensin. Jika permintaan bensin meningkat, maka kilang akan menggunakan lebih banyak minyak mentah untuk memproduksi bahan bakar, yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan minyak mentah secara keseluruhan.
Penarikan besar sebesar 6 juta barel dalam laporan EIA (Energy Information Administration) telah mempengaruhi pasar secara signifikan. Analis Mizuho, Robert Yawger, mengamati bahwa situasi bensin terlihat sedikit ketat, yang bisa diartikan bahwa ada peningkatan permintaan untuk bahan bakar dan pasokan yang terbatas. Pernyataan tersebut juga bisa diartikan bahwa penarikan besar dalam laporan EIA telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar tentang pasokan bahan bakar di masa depan. Hal ini dapat memengaruhi harga bahan bakar dan dapat menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan di pasar.
Permintaan komoditas yang melonjak di China, yang merupakan importir minyak terbesar dunia, juga dapat memberikan dukungan pada harga minyak mentah secara keseluruhan. Jika permintaan minyak di China meningkat, maka dapat mempengaruhi pasokan minyak mentah global, dan harga minyak mentah dapat meningkat karena kenaikan permintaan.

Harga minyak mentah Brent berjangka turun sebesar 78 sen atau 1%, dan berakhir pada harga $75,91 per barel pada sesi perdagangan tersebut. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun sebesar 94 sen atau 1,3%, dan berakhir pada harga $69,96 per barel pada sesi perdagangan yang sama. Ini berarti bahwa pada hari itu, harga kedua jenis minyak mentah tersebut turun di pasar komoditas dunia, semoga bermanfaat. Disclaimmer On!!





