MaruliTua.com
  • Market Analysis
  • News
  • Learn Trading
  • Lainnya
    • Live Chart
    • Economic Calendar
    • Various-Topics
No Result
View All Result
MaruliTua.com
  • Market Analysis
  • News
  • Learn Trading
  • Lainnya
    • Live Chart
    • Economic Calendar
    • Various-Topics
No Result
View All Result
MaruliTua.com
No Result
View All Result
Home Learn Trading

Memahami Korelasi antara NFP, Jobless Claims, dan Inflasi dalam Ekonomi AS

Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA by Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA
Juni 13, 2024
in Learn Trading
Reading Time: 5 mins read
1.7k 52
0
Memahami Korelasi antara NFP, Jobless Claims, dan Inflasi dalam Ekonomi AS
414
SHARES
1.7k
VIEWS
ShareTweetSend

Kamis, 13 Juni 2024, NFP (Non-Farm Payroll) dan jobless claims adalah dua indikator ekonomi penting yang digunakan untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja di Amerika Serikat.

Non-Farm Payroll (NFP)

Non-Farm Payroll (NFP) mengukur jumlah pekerjaan yang ditambahkan ke ekonomi AS, tidak termasuk pekerjaan di sektor pertanian, pegawai pemerintah, rumah tangga pribadi, dan organisasi nirlaba. Data NFP dirilis setiap bulan oleh Bureau of Labor Statistics (BLS) dan dianggap sebagai indikator utama kesehatan ekonomi karena menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di berbagai sektor industri. Peningkatan dalam NFP biasanya mengindikasikan ekonomi yang kuat dan bertumbuh, sementara penurunan dapat menunjukkan perlambatan ekonomi.

Jobless Claims (Initial Jobless Claims)

Jobless claims mengukur jumlah orang yang mengajukan klaim asuransi pengangguran untuk pertama kali. Data ini dirilis setiap minggu oleh Department of Labor dan digunakan sebagai indikator awal untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja. Peningkatan dalam jobless claims biasanya mengindikasikan meningkatnya pengangguran, sementara penurunan menunjukkan lebih sedikit orang yang kehilangan pekerjaan.

Korelasi antara NFP dan Jobless Claims

Hubungan Terbalik:

Umumnya, ada hubungan terbalik antara NFP dan jobless claims. Ketika NFP tinggi (menunjukkan banyak pekerjaan baru yang diciptakan), jobless claims cenderung rendah (menunjukkan lebih sedikit orang yang mengajukan klaim pengangguran).

Sebaliknya, ketika NFP rendah atau negatif (menunjukkan sedikit atau tidak ada pekerjaan baru yang diciptakan, atau bahkan kehilangan pekerjaan), jobless claims cenderung meningkat (menunjukkan lebih banyak orang mengajukan klaim pengangguran).

Lead-Lag Relationship:

Jobless claims sering dianggap sebagai indikator yang lebih awal dibandingkan NFP karena data ini dirilis setiap minggu dan memberikan gambaran cepat tentang kondisi pasar tenaga kerja.

Data NFP yang bulanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tetapi kurang sering, sehingga jobless claims dapat memberikan petunjuk awal tentang apa yang mungkin dilaporkan dalam data NFP mendatang.

Volatilitas:

Jobless claims dapat lebih volatil karena dirilis setiap minggu dan dipengaruhi oleh faktor musiman serta peristiwa ekonomi jangka pendek.


NFP, karena merupakan data bulanan, cenderung lebih stabil dan memberikan gambaran yang lebih terstruktur tentang tren pasar tenaga kerja dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Kesimpulan

Meskipun ada hubungan terbalik umum antara NFP dan jobless claims, penting untuk menganalisis kedua indikator ini bersama-sama untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang kesehatan pasar tenaga kerja. Keduanya saling melengkapi dalam menyediakan wawasan tentang tren pekerjaan dan pengangguran di Amerika Serikat.

Korelasi antara Jobless Claims dan Inflasi

Jobless claims dapat memiliki korelasi dengan inflasi, meskipun hubungan tersebut tidak selalu langsung atau kuat. Berikut adalah penjelasan mengenai bagaimana jobless claims dan inflasi dapat saling berhubungan:

Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja:

  • Jobless Claims Menurun: Ketika jobless claims menurun, ini menunjukkan bahwa lebih sedikit orang yang kehilangan pekerjaan, yang biasanya berarti pasar tenaga kerja lebih ketat. Ketika pasar tenaga kerja ketat, pekerja memiliki lebih banyak daya tawar untuk meminta kenaikan gaji.
  • Upah Meningkat: Kenaikan upah dapat mendorong inflasi karena biaya tenaga kerja yang lebih tinggi sering kali diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga barang dan jasa yang lebih tinggi.

Konsumsi dan Permintaan Agregat:

  • Jobless Claims Menurun: Dengan lebih sedikit orang yang menganggur, lebih banyak orang yang memiliki penghasilan tetap, yang meningkatkan daya beli dan konsumsi.
  • Permintaan Meningkat: Peningkatan permintaan konsumen dapat mendorong inflasi, terutama jika permintaan melebihi kapasitas produksi.

Jobless Claims Meningkat:

  • Pengangguran Meningkat: Ketika jobless claims meningkat, ini menunjukkan bahwa lebih banyak orang kehilangan pekerjaan, yang berarti pasar tenaga kerja lebih longgar.
  • Tekanan Inflasi Menurun: Dengan pengangguran yang lebih tinggi, daya tawar pekerja berkurang, sehingga kenaikan upah mungkin lebih lambat atau tidak terjadi sama sekali. Konsumsi juga cenderung menurun karena lebih sedikit orang yang memiliki penghasilan tetap.
  • Deflasi atau Inflasi Rendah: Dalam kondisi pengangguran yang tinggi, tekanan inflasi cenderung menurun karena konsumsi yang menurun dan kurangnya tekanan untuk menaikkan upah.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Korelasi

Kebijakan Moneter dan Fiskal:

  • Kebijakan Moneter: Bank sentral, seperti Federal Reserve di AS, sering kali akan menyesuaikan kebijakan moneter berdasarkan kondisi pasar tenaga kerja. Misalnya, tingkat pengangguran yang tinggi dapat mendorong penurunan suku bunga untuk merangsang ekonomi, sementara inflasi yang tinggi mungkin memicu kenaikan suku bunga.
  • Kebijakan Fiskal: Kebijakan pemerintah, seperti stimulus fiskal atau pengeluaran pemerintah, juga dapat memengaruhi hubungan antara jobless claims dan inflasi.

Ekspektasi Inflasi:

  • Ekspektasi Publik: Jika publik mengharapkan inflasi tinggi di masa depan, mereka mungkin akan bertindak dengan cara yang memicu inflasi, seperti meminta kenaikan gaji yang lebih tinggi atau menaikkan harga barang dan jasa.

Kondisi Ekonomi Global:

  • Globalisasi dan Perdagangan: Kondisi ekonomi global, termasuk harga komoditas dan gangguan rantai pasokan, dapat mempengaruhi inflasi terlepas dari kondisi pasar tenaga kerja domestik.

Kesimpulan

Meskipun ada korelasi antara jobless claims dan inflasi, hubungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak selalu linier. Penurunan jobless claims dapat menyebabkan inflasi melalui peningkatan upah dan permintaan, sementara peningkatan jobless claims cenderung menurunkan tekanan inflasi. Namun, kebijakan moneter dan fiskal serta kondisi ekonomi global juga memainkan peran penting dalam dinamika ini.

Share166Tweet104Send
Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA

Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA

Maruli T. Sinambela is a writer, trading practitioner, and educator with experience in the financial markets since 2007. His expertise covers Forex, stock indices, commodities, and equities.Maruli T. Sinambela has demonstrated a strong leadership track record in the futures trading industry. He served as President Director of PT Indosukses Futures from 2020 to 2025, and in 2026, he was entrusted to lead PT Trident Pro Futures as President Director.He is actively engaged as an educator, speaker, and resource person across various media platforms—including television, radio, and digital channels—with a focus on market analysis and practical trading education.He has been involved as a member of the Education, Training, and Development Committee (DIKLATBANG) since 2021, and has served as a competency assessor and validator at the Professional Certification Institute (LSP) under the Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) since June 2023.Drawing on extensive experience, Maruli emphasizes that successful trading is built on discipline, consistency, sound risk management, and the ability to separate logic from emotion. He also highlights the importance of safeguarding investment funds by ensuring that all trading activities are conducted through officially licensed and regulated institutions in Indonesia.

Related Posts

MetaTrader 5 Indicators: The Key to Reading Market Direction Amid Global Volatility
Learn Trading

MetaTrader 5 Indicators: The Key to Reading Market Direction Amid Global Volatility

by Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA
Maret 28, 2026
0

JAKARTA, March 28, 2026 – Global market volatility has shown a significant increase in recent times, driven by geopolitical dynamics...

Read moreDetails
Belajar Trading 4 Pilar Trader Profesional XAUUSD

Belajar Trading 4 Pilar Trader Profesional XAUUSD

Februari 18, 2026
Soft Landing atau Perlambatan? Arah Dolar di Ujung Data A.S

Februari 16, 2026
Belajar Trading Pro I: Langkah Nyata Menjadi Trader Profesional Bersama Trident Pro Futures

Belajar Trading Pro I: Langkah Nyata Menjadi Trader Profesional Bersama Trident Pro Futures

Januari 14, 2026
Next Post
Kurs Rupiah Menguat Tipis: Analisis Pergerakan Nilai Tukar pada Awal Juni 2024

Kurs Rupiah Menguat Tipis: Analisis Pergerakan Nilai Tukar pada Awal Juni 2024

Ikhtisar Pasar

Data Pasar oleh TradingView
MaruliTua.com

© 2018-2022 MaruliTua All Rights Reserved Worldwide.

Navigasi Situs

  • Tentang
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Saya

Follow Saya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Market Analysis
  • News
  • Learn Trading
  • Lainnya
    • Live Chart
    • Economic Calendar
    • Various-Topics

© 2018-2022 MaruliTua All Rights Reserved Worldwide.