Harga minyak naik pada hari Senin, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun didukung oleh pemulihan ekonomi dan prospek pertumbuhan permintaan bahan bakar karena kampanye vaksinasi di negara maju semakin cepat.
Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada hari Jumat tgl 11 Juni 2021 bahwa: “ mereka memperkirakan permintaan global akan kembali ke tingkat pra-pandemi pada akhir tahun 2022, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya “.
Dalam laporan yang dirilis pada hari Jumat, International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak akan meningkat tahun ini sebesar 5.4 juta bph dan 3.1 juta bph tahun depan, sehingga dapat mencapai 100.6 juta bph pada akhir tahun 2022 atau melampaui tingkat permintaan sebelum terjadinya pandemi Covid-19.
IEA juga mendesak agar OPEC dan sekutunya meningkatkan produksi untuk mengikuti pemulihan permintaan tersebut. OPEC perlu menambah sekitar 1.4 juta bph di atas target Juli 2021 hingga Maret 2022, tambah IEA.
Dari AS juga dilaporkan bahwa jumlah rig minyak AS dalam sepekan naik 6 rig menjadi 365 rig atau kenaikan tertinggi sejak April 2020, ungkap perusahaan jasa energi Baker Hughes dalam laporan untuk pekan yang berakhir 11 Juni. Peningkatan tersebut juga mengindikasikan bahwa perusahaan pengeboran berusaha mendapatkan keuntungan seiring dengan meningkatnya permintaan. laporan tersebut diatas merupakan peningkatan mingguan terbesar rig minyak dalam sebulan.

Menurut hemat saya harga minyak akan berada dalam kisaran berkisar antara support $70 dan resisten $75 per barel pada paruh kedua tahun ini dengan catatan OPEC dan sekutunya tetap mempertahankan komitmen mereka terhadap pembatasan produksi dan tetap dalam dukungan dari Irak produsen terbesar kedua OPEC setelah Arab Saudi – agar OPEC+ tetap membatasi produksinya.





