
Harga minyak menetap lebih rendah pada hari Jumat tetapi mencatat kenaikan minggu kedua berturut-turut, memperoleh dukungan dari pemotongan suku bunga AS dan penurunan pasokan AS. Meskipun demikian, sentimen tetap berhati-hati karena berbagai faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik dan data ekonomi global.
Analisis Teknikal Minyak Mentah (WTI)
- Trend Channel: Harga bergerak dalam channel naik (uptrend) yang ditandai dengan garis putus-putus. Ini menunjukkan bahwa tren saat ini masih bullish meskipun harga berkonsolidasi.
- Level Fibonacci: Fibonacci retracement dari pergerakan naik terbaru menunjukkan beberapa level penting:
- Level 61.8% (70.90) sebagai support kunci yang telah diuji beberapa kali dan bertahan kuat.
- Level 100% (71.75) menjadi resistance utama yang perlu ditembus untuk melanjutkan kenaikan.
- RSI (Relative Strength Index): RSI berada di sekitar 54, menunjukkan bahwa momentum saat ini masih netral. Ini memberikan peluang bagi harga untuk bergerak lebih tinggi jika sentimen pasar tetap positif.
- Outlook dan Potensi Pergerakan:
- Jika harga berhasil menembus level resistance di 71.75, potensi kenaikan ke 72.50-73.00 sangat terbuka.
- Namun, jika harga turun dan menembus level 61.8% Fibonacci di 70.90, maka support berikutnya berada di sekitar 70.50.
Faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga Minyak
- Pemangkasan Suku Bunga The Fed: Pemangkasan suku bunga oleh The Fed telah mendukung sentimen pasar dengan melemahkan dolar AS, membuat minyak lebih murah bagi pembeli internasional dan mendongkrak harga.
- Penurunan Pasokan Minyak AS: Penurunan persediaan minyak mentah AS ke level terendah dalam satu tahun memberikan dukungan signifikan pada harga, menunjukkan kondisi pasokan yang lebih ketat.
- Badai Francine: Produksi minyak mentah dan gas alam di Teluk Meksiko terganggu akibat Badai Francine, yang menyebabkan 6% produksi minyak mentah dan 10% produksi gas alam terhenti. Gangguan ini mengurangi pasokan dan mendukung harga.
- Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah: Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, seperti serangan udara Israel terhadap Hizbullah, meningkatkan risiko gangguan pasokan yang sering mendorong harga minyak lebih tinggi.
- Perlambatan Ekonomi China: Tanda-tanda perlambatan ekonomi di China sebagai konsumen komoditas utama membatasi kenaikan harga karena permintaan berpotensi menurun.
- Kuota Ekspor Bahan Bakar China: Langkah China untuk mempertahankan kuota ekspor bahan bakar pada level 2023 menunjukkan lemahnya margin kilang, yang dapat membatasi peningkatan aktivitas produksi.
- Penurunan Profitabilitas Kilang Global: Kilang di Asia, Eropa, dan AS menghadapi penurunan profitabilitas ke level terendah dalam beberapa tahun, yang berpotensi menghambat produksi dan berdampak pada pasokan produk olahan minyak.
Kesimpulan
Harga minyak mentah didukung oleh berbagai faktor yang kompleks, mulai dari kebijakan moneter The Fed hingga ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasokan. Sementara sisi teknikal menunjukkan potensi kenaikan dalam channel uptrend, fundamental tetap menjadi pendorong utama yang bisa mengarahkan pergerakan harga lebih lanjut. Kombinasi antara pengetatan pasokan dan sentimen pasar yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga membuat harga minyak tetap berpeluang naik, meskipun tantangan dari sisi permintaan global tidak bisa diabaikan.





