Harga emas naik tipis pada hari Selasa meskipun dolar AS menguat, dengan investor memperhatikan prospek kebijakan moneter Federal Reserve AS dan data inflasi yang akan dirilis. Emas spot naik sekitar 0,1% menjadi $2.312,70 per ons, sementara emas berjangka AS sebagian besar tidak berubah pada $2.326,60.
Indeks dolar berada di dekat level tertinggi satu bulan, membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS. Spekulasi berkembang bahwa Federal Reserve mungkin akan menurunkan suku bunga pada bulan September dan sekali lagi dalam tahun ini, meskipun jajak pendapat Reuters menunjukkan risiko signifikan bahwa bank sentral mungkin hanya memilih satu atau tidak sama sekali.
Kondisi suku bunga yang tinggi membuat emas batangan kurang menarik dibandingkan dengan aset yang menghasilkan bunga.
Harga emas turun lebih dari 3,5% pada hari Jumat, dipicu oleh data pekerjaan AS yang kuat dan berita bahwa bank sentral Tiongkok menunda pembelian emas untuk cadangan mereka pada bulan Mei. Penurunan tersebut menandai penurunan harian terbesar sejak November 2020.
Di antara logam lainnya, perak spot turun lebih dari 2% menjadi $29,16 per ons, platinum turun 1,5% menjadi $952,67, dan paladium turun 2% menjadi $885,75. Turunnya harga logam-logam tersebut menunjukkan ketidakpastian yang terus berlanjut di pasar komoditas logam mulia.
Investor secara luas memantau perkembangan di pasar keuangan global, dengan harapan bahwa data inflasi AS dan keputusan Federal Reserve dapat memberikan petunjuk yang lebih jelas tentang arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.





