Semarang, 20 Oktober 2025, arah pengembangan industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) di Indonesia kini memasuki babak baru. Dalam forum LATNIS PBK 2025, tiga lembaga utama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Jakarta Futures Exchange (JFX), dan Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), memaparkan langkah sinergis dalam memperkuat kebijakan dan strategi pengembangan ekosistem transaksi multilateral.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya modernisasi Bursa Berjangka, dengan fokus pada peningkatan efisiensi, transparansi, serta perluasan partisipasi pelaku pasar domestik. Forum yang dipandu oleh Ibu Poppy (Bappebti) sebagai moderator, forum komunikasi teknis menjadi ruang strategis untuk mempertemukan visi regulator dan pelaku industri dalam membangun fondasi Perdagangan Berjangka yang kompetitif dan berdaya saing global.

Kepatuhan Tinggi, Pondasi Pasar yang Kuat
Biro Pengawasan dan Penindakan PBK, SRG, dan PLK Bappebti mencatat tren positif dalam tingkat kepatuhan peserta pasar terhadap kewajiban transaksi multilateral. Selama periode Januari hingga Agustus 2025, tingkat kepatuhan mencapai 94,74%, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen Pialang Berjangka dan pelaku usaha dalam menjaga integritas, transparansi, serta kredibilitas pasar Berjangka. Peningkatan kepatuhan juga mencerminkan semakin kuatnya penerapan tata kelola yang baik (good governance) di industri PBK.
“Persentase kepatuhan yang terus meningkat mencerminkan penguatan tata kelola industri. Kepatuhan adalah fondasi dari kepercayaan pasar,” tegas Pak Matheus Hendro Purnomo, Kepala Biro Pengawasan dan Penindakan PBK, SRG, dan PLK Bappebti.

JFX: Edukasi dan Literasi Sebagai Kunci Peningkatan Volume
Sementara itu, Bursa Berjangka Jakarta (JFX) menyoroti tantangan klasik yang dihadapi transaksi multilateral, rendahnya pemahaman publik, persepsi risiko tinggi, serta likuiditas yang belum optimal. JFX menilai bahwa mengubah paradigma pasar memerlukan pendekatan edukatif dan inklusif.
Melalui serangkaian program edukasi, literasi, dan transformasi produk, JFX berupaya membuka akses yang lebih luas bagi nasabah ritel untuk berpartisipasi di pasar multilateral. Langkah ini meliputi penyediaan lot lebih kecil, margin ringan, serta penyusunan kontrak baru berbasis kebutuhan domestik dan global.
Selain itu, JFX juga mendorong kolaborasi lintas lembaga, seperti universitas, komunitas trader, dan media massa, guna memperluas jangkauan literasi PBK. “Peningkatan volume multilateral bukan sekadar angka transaksi, tetapi pembangunan kepercayaan dan profesionalisme pelaku pasar,” ujar perwakilan pak Vito JFX dalam paparan resmi.

ICDX: Inovasi Produk dan Ekspansi Ekosistem
Dari sisi inovasi, Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menegaskan pentingnya memperkuat ekosistem produk multilateral melalui pendekatan holistik. ICDX mencatat peningkatan signifikan nilai nosional transaksi multilateral dari Rp 38 triliun pada 2020 menjadi Rp100 triliun per September 2025.
Lonjakan ini didorong oleh keberhasilan program GOFX (Gold, Oil, Forex) yang membuka akses pasar berjangka dengan ukuran kontrak kecil, menjangkau trader ritel di berbagai daerah. ICDX kini menyiapkan serangkaian inovasi lanjutan pada;
- Pengembangan kontrak opsi komoditi multilateral,
- Kemudahan partisipasi lintas pasar (cross-market),
- Pembentukan sentra dana berjangka, serta
- Perluasan peran market maker untuk memperdalam likuiditas.
ICDX juga memperkuat sinergi antara pasar fisik dan Kontrak Berjangka, dengan melakukan penyesuaian sistem dan evaluasi terhadap spesifikasi produk agar lebih sesuai dengan dinamika pelaku pasar global.
Sinergi kebijakan dan arah baru PBK, dari ketiga paparan tersebut, arah penguatan pasar PBK Indonesia terlihat jelas: meningkatkan kepatuhan, memperluas partisipasi, dan memperdalam likuiditas.
Bappebti berperan sebagai pengawas dan penjaga integritas, JFX fokus pada peningkatan literasi dan volume transaksi, sementara ICDX berinovasi melalui diversifikasi produk dan ekosistem multilateral yang inklusif. Ketiganya memiliki satu tujuan sama: mewujudkan pasar berjangka yang aman, transparan, dan kompetitif di tingkat global ,” ujar perwakilan pak Fajar ICDX dalam paparannya.
Transformasi menuju pasar multilateral bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi bagian dari perjalanan panjang membangun industri berjangka yang modern, terukur, dan berdaya saing tinggi.
Dengan dukungan pengawasan yang kuat, edukasi berkelanjutan, serta inovasi produk yang relevan, Indonesia sedang menapaki babak baru dari pasar alternatif menuju bursa berjangka yang sepenuhnya berorientasi pada kepentingan nasional dan kredibilitas global.





