MaruliTua.com
  • Analisa Pasar
  • Berita
  • Belajar Trading
  • Lainnya
    • Grafik Live
    • Kalender Ekonomi
    • Serba-serbi
No Result
View All Result
MaruliTua.com
  • Analisa Pasar
  • Berita
  • Belajar Trading
  • Lainnya
    • Grafik Live
    • Kalender Ekonomi
    • Serba-serbi
No Result
View All Result
MaruliTua.com
No Result
View All Result
Home Analisa Pasar

Harga Minyak Merosot Ke 77 Karena Dolar Dan Kurangnya Permintaan

Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA by Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA
November 27, 2023
in Analisa Pasar
Reading Time: 5 mins read
1.7k 17
0
Harga Minyak Merosot Ke 77 Karena Dolar Dan Kurangnya Permintaan
413
SHARES
1.7k
VIEWS
ShareTweetSend

Harga minyak cenderung terkait erat dengan nilai tukar dolar AS, karena minyak diperdagangkan dalam dolar AS di pasar internasional. Ketika nilai tukar dolar AS menguat, maka harga minyak cenderung turun, karena minyak akan lebih mahal bagi pembeli dari negara-negara yang menggunakan mata uang selain dolar AS.

Kekhawatiran tentang permintaan yang lemah juga dapat mempengaruhi harga minyak. Jika kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global meningkat, maka permintaan akan minyak dapat menurun karena kurangnya aktivitas ekonomi yang membutuhkan energi. Ini dapat menyebabkan penurunan harga minyak karena penawaran minyak melebihi permintaan.

Harga minyak dunia mengalami penurunan pada hari Kamis (20/4), dipicu oleh data ekonomi AS yang diredam serta ekspektasi kenaikan suku bunga yang mendorong dolar AS. Harga minyak Brent dan minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) masing-masing turun sekitar 1%.

Data ekonomi AS yang diterbitkan pada hari Rabu menunjukkan bahwa penjualan ritel bulan Maret turun 8,7%, meleset dari perkiraan yang menunjukkan penurunan 8%. Data tersebut merupakan sinyal lain dari perlambatan ekonomi Amerika Serikat, yang membuat investor khawatir terhadap prospek permintaan minyak dunia.

Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada pertengahan 2023 juga mempengaruhi penurunan harga minyak. Kenaikan suku bunga dapat memperkuat dolar AS dan membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar AS, sehingga merusak permintaan global atas minyak.

Sejalan dengan data ekonomi AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga, harga minyak dunia terus merosot selama beberapa pekan terakhir. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi harga minyak adalah persediaan minyak yang terus meningkat di Amerika Serikat, serta penurunan permintaan dari India, negara yang tengah berjuang melawan gelombang pandemi virus corona.

Namun, di sisi lain, produsen minyak OPEC+ telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi pasokan minyak mereka sebagai upaya untuk mendukung harga minyak. Pada pertengahan Maret, OPEC+ memutuskan untuk memperpanjang kesepakatan pemotongan pasokan minyak mereka hingga April, dengan harapan dapat mengurangi persediaan minyak dan mendukung harga minyak.

Kendati demikian, perubahan harga minyak masih terus bergantung pada banyak faktor lainnya seperti stabilitas politik di negara-negara produsen minyak utama, kejadian cuaca, serta faktor-faktor musiman. Hal ini menjadikan harga minyak dunia sangat fluktuatif dan sulit diprediksi.

Federal Reserve melaporkan bahwa aktivitas ekonomi Amerika Serikat mengalami sedikit perubahan dalam beberapa pekan terakhir, ditandai oleh pertumbuhan lapangan kerja yang moderat dan kenaikan harga yang melambat. Laporan yang diterbitkan pada hari Rabu (tanggal 20/4) itu menunjukkan bahwa sektor manufaktur mengalami peningkatan, sementara sektor jasa mengalami sedikit penurunan.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran masih tinggi, meskipun telah menurun sejak awal pandemi. Selain itu, inflasi juga masih menjadi perhatian, dengan beberapa perusahaan melaporkan kenaikan harga bahan baku dan bahan jadi.

Kondisi ini sejalan dengan data ekonomi AS yang dikeluarkan pekan lalu, yang menunjukkan penurunan penjualan ritel bulan Maret. Data tersebut menjadi sinyal bagi investor tentang perlambatan ekonomi Amerika Serikat yang berdampak pada permintaan global atas minyak.

Meskipun demikian, para ekonom dan investor tetap memperhatikan dengan seksama tindakan kebijakan moneter Federal Reserve. Kebijakan suku bunga rendah dan program stimulus yang besar-besaran telah membantu menghidupkan kembali ekonomi Amerika Serikat setelah terpukul oleh pandemi.


Namun, beberapa pengamat khawatir bahwa kebijakan moneter tersebut dapat memicu inflasi yang lebih tinggi dan mengganggu stabilitas ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, kebijakan moneter Federal Reserve tetap menjadi perhatian utama bagi pasar keuangan global, termasuk harga minyak dunia.

Pada pekan lalu, terjadi penurunan stok minyak mentah sebesar 4,6 juta barel di AS menurut laporan dari Administrasi Informasi Energi AS.Penurunan ini disebabkan karena peningkatan ekspor. Namun, terjadi lonjakan persediaan bensin yang tidak terduga karena permintaan mengecewakan.

Meskipun penurunan persediaan minyak mentah seharusnya mendukung kenaikan harga minyak, namun lonjakan persediaan yang tak terduga dapat mempengaruhi harga minyak. Hal ini disebabkan karena ketidakpastian dalam permintaan bahan bakar dan kenaikan persediaan dapat mengurangi tekanan pada harga.

Namun, tetap perlu dicatat bahwa kondisi pasar yang volatil dapat menyebabkan fluktuasi harga yang tidak terduga. Para pelaku pasar perlu memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi harga minyak, seperti kebijakan moneter Federal Reserve, stabilitas politik di negara-negara produsen minyak utama, serta faktor-faktor cuaca dan musiman. Hal ini dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan keuntungan.

Stok minyak mentah AS mengalami penurunan yang jauh lebih besar dari perkiraan analis yang hanya sebesar 1,1 juta barel. Bahkan perkiraan yang dikeluarkan oleh American Petroleum Institute pada Selasa malam sebesar 2,7 juta barel, jauh lebih rendah dari angka yang tercatat. Hal ini menunjukkan adanya lonjakan permintaan atau peningkatan ekspor yang menyebabkan penurunan tajam pada persediaan minyak mentah.

Meskipun Rusia berjanji untuk memangkas produksi minyak, pemuatan minyak dari pelabuhan barat Rusia pada bulan April diperkirakan akan mencapai level tertinggi sejak 2019, yaitu lebih dari 2,4 juta barel per hari. Hal ini berdasarkan informasi dari sumber perdagangan dan pengiriman. Kenaikan ini mungkin akan mempengaruhi harga minyak di pasar internasional karena akan ada peningkatan pasokan minyak global.

Saat ini, produksi minyak di seluruh dunia masih dalam tahap pemulihan setelah terdampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan penurunan permintaan yang signifikan. Namun, peningkatan pasokan dari produsen besar seperti Rusia dapat mempengaruhi harga minyak secara signifikan.

Pada hari Rabu, harga minyak dunia turun sekitar 2% ke level terendah dua minggu meskipun terjadi penurunan tajam dalam persediaan minyak mentah AS. Menurut para ahli, turunnya harga minyak disebabkan oleh penguatan dolar AS di tengah kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga, yang berpotensi membatasi permintaan energi di konsumen terbesar dunia.

Meskipun terjadi penurunan stok minyak mentah AS yang jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya, pasar nampaknya mengabaikan hal ini dan fokus pada faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi permintaan minyak. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran pasar tentang prospek permintaan minyak masih cukup tinggi.

Harga minyak telah turun dan menembus level support di angka 79. Hal ini menunjukkan bahwa harga kemungkinan akan terus menurun hingga mencapai area 73-79. Faktor fundamental yang mendukung penurunan harga minyak tersebut tidak dijelaskan, namun dikatakan bahwa posisi harga untuk berbalik naik akan membutuhkan fundamental pendukung yang lebih kuat. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa situasi pasar saat ini mengarah pada penurunan harga minyak dan perlu adanya faktor pendukung yang kuat untuk membalikkan trend penurunan tersebut.

Grafik Crude Oil Daily

Namun, tetap perlu dicatat bahwa kondisi pasar yang volatil dapat menyebabkan fluktuasi harga yang tidak terduga. Para pelaku pasar perlu memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi harga minyak, seperti kebijakan moneter Federal Reserve, stabilitas politik di negara-negara produsen minyak utama, serta faktor-faktor cuaca dan musiman. Hal ini dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan keuntungan, semoga bermanfaat.

Share165Tweet103Send
Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA

Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA

Maruli T Sinambela, S.E, M.Th, WPB, WPA penulis dan praktisi trading, lahir pada tahun 1975 di Sumatera Utara. Memasuki dunia trading sejak tahun 2007, mengembangkan minat keahlian dalam dunia trading Forex, indeks saham, komoditi, dan saham.Pada akhir tahun 2020, posisi President Director di Indosukses Futures, kepemimpinan dan dedikasi terhadap industri keuangan. Pengajar dan pembicara, berkontribusi pada peningkatan pengetahuan melalui seminar, workshop, dan program pelatihan, seperti P4WPB dan WPA, menjadi narasumber media elektronik.Aktif di tingkat organisasi sebagai anggota Komite Pendidikan Pelatihan Dan Pengembangan (DIKLATBANG) sejak tahun 2021, dengan sertifikat kompetensi, asesmen/uji kompetensi, dan menjadi asesor, validator kompetensi LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi), BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), Juni 2023, LPK (BPM) Lembaga Pelatihan Kerja Bina profesi Mandiri 2024.Berlandaskan pengalaman dalam dunia trading, perencanaan dan praktik pelaksanaan harus konsisten tanpa melibatkan emosi. Sebagai seorang trader, harus bisa memiliki kemampuan untuk membedakan antara logika dan perasaan, serta menilai pentingnya keamanan dana investasi dengan memastikan tempat berinvestasi resmi memiliki izin dari regulator yang berlaku di Indonesia.

Related Posts

Kepercayaan Konsumen A.S Menguat, Pasar Masih Menunggu Kepastian Data Lanjutan
Analisa Pasar

Kepercayaan Konsumen A.S Menguat, Pasar Masih Menunggu Kepastian Data Lanjutan

by Maruli T Sinambela, S.E., M.Th., WPB, WPA
Februari 25, 2026
0

Pasar keuangan global mengawali pekan terakhir Februari 2026 dengan satu rilis data ekonomi Amerika Serikat yang sudah terkonfirmasi, sementara agenda...

Read moreDetails
Inflasi Bertahan, Ekonomi Melambat: Arah Emas Ditentukan Data

Inflasi Bertahan, Ekonomi Melambat: Arah Emas Ditentukan Data

Februari 20, 2026
Soft Landing atau Perlambatan? Arah Dolar di Ujung Data A.S

Soft Landing atau Perlambatan? Arah Dolar di Ujung Data A.S

Februari 15, 2026
Pasar Menahan Napas: Emas Diuji Volatilitas Dua Hari Krusial

Pasar Menahan Napas: Emas Diuji Volatilitas Dua Hari Krusial

Februari 5, 2026
Next Post
Penguatan Dolar Mendorong Penurunan Harga Emas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Penguatan Dolar Mendorong Penurunan Harga Emas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Ikhtisar Pasar

Data Pasar oleh TradingView
MaruliTua.com

© 2018-2022 MaruliTua All Rights Reserved Worldwide.

Navigasi Situs

  • Tentang
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Saya

Follow Saya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Analisa Pasar
  • Berita
  • Belajar Trading
  • Lainnya
    • Grafik Live
    • Kalender Ekonomi
    • Serba-serbi

© 2018-2022 MaruliTua All Rights Reserved Worldwide.