Harga minyak mentah AS terus menurun di bawah $70 per barel, menyentuh level terendah sembilan bulan di tengah kekhawatiran tentang potensi kenaikan pasokan dari OPEC+ dan lemahnya permintaan global, khususnya dari Tiongkok. Penurunan ini mengikuti aksi jual yang signifikan pada hari Selasa, di mana harga minyak jatuh lebih dari 4%, memperkuat ketidakpastian dalam pasar energi global.
Pada grafik teknikal dibawah ini, terlihat jelas bahwa harga minyak mentah (CLR) telah mengalami tren penurunan yang konsisten, dengan indikator Ichimoku menunjukkan harga tetap berada di bawah awan, menandakan tekanan bearish yang kuat. Penurunan ini juga didukung oleh tren penurunan RSI yang mendekati area oversold (35,76), memberi indikasi bahwa momentum jual masih dominan meski pasar sudah berada di level rendah.
Spekulasi Penundaan Kenaikan Produksi OPEC+
Dengan harga yang terus menurun, spekulasi muncul bahwa OPEC+ mungkin akan menunda peningkatan produksi yang sebelumnya dijadwalkan untuk dimulai pada bulan Oktober. Giovanni Staunovo, ahli strategi dari UBS, menyatakan bahwa sentimen pasar terhadap berita kenaikan pasokan ini sangat lemah, menambah tekanan terhadap harga minyak. Beberapa sumber dari OPEC+ bahkan mengindikasikan bahwa kelompok tersebut mungkin mempertimbangkan untuk membatalkan kenaikan produksi, mengingat kondisi pasar saat ini.
Permintaan Lemah dari Tiongkok Memperburuk Sentimen Pasar
Salah satu faktor kunci yang memperparah pelemahan harga minyak adalah lemahnya permintaan dari Tiongkok, yang merupakan konsumen energi terbesar dunia. Aktivitas manufaktur yang lemah di Tiongkok, diikuti oleh penurunan impor dan tingkat pemanfaatan kilang yang rendah, telah memberikan tekanan tambahan pada pasar. Hal ini menjadi beban besar bagi harga minyak sepanjang tahun 2024, di mana tidak ada gangguan signifikan pada pasokan global yang dapat mengimbangi penurunan permintaan tersebut.
Helima Croft dari RBC menekankan bahwa “cerita Tiongkok” telah menjadi elemen sentral dalam melemahnya pasar minyak tahun ini. Dengan pemulihan ekonomi yang melambat di negara tersebut, prospek permintaan minyak tetap suram, mengakibatkan harga minyak mentah terus terperosok.
Prospek Ke Depan: Apakah Ada Pemulihan?
Meskipun pasar tampak suram, beberapa analis tetap optimis. UBS, misalnya, percaya bahwa pasar terlalu pesimis dan memperkirakan harga Brent akan pulih ke $80 per barel dalam beberapa bulan mendatang. Staunovo dari UBS menyarankan investor yang lebih agresif untuk mengambil peluang di tengah penurunan harga ini, dengan harapan bahwa OPEC+ akan menunda peningkatan produksi dan permintaan global akan stabil.
Di sisi lain, Arab Saudi tetap mengandalkan penjualan minyak untuk mendanai proyek-proyek modernisasi di bawah Visi 2030, yang berarti mereka akan berusaha menjaga harga minyak di level yang lebih optimal bagi kepentingan ekonomi mereka.

Analisis Teknis:
- Indikator Ichimoku Cloud:
- Harga saat ini berada di bawah cloud Ichimoku, yang merupakan sinyal bearish. Ketika harga berada di bawah cloud, tren umumnya bearish, dan tekanan jual lebih dominan.
- Kumo (awan) tampak tebal di masa lalu, menunjukkan resistensi yang signifikan pada level-level lebih tinggi. Ini memperkuat sinyal bahwa tren turun memiliki momentum yang kuat dan membutuhkan dorongan yang besar untuk membalikkan arah.
- Garis Tenkan-sen dan Kijun-sen:
- Tenkan-sen (garis merah) berada di bawah Kijun-sen (garis biru), yang merupakan konfirmasi dari tren turun. Ini menunjukkan bahwa harga jangka pendek lebih rendah dibandingkan rata-rata harga sebelumnya, yang menambah konfirmasi tren bearish.
- Support dan Resistance:
- Harga saat ini mendekati level support di sekitar $68,45 dan $67,70, yang merupakan level support teknikal terdekat. Jika harga berhasil menahan diri di atas level support ini, potensi untuk rebound akan meningkat.
- Di sisi lain, jika level ini ditembus, harga dapat melanjutkan penurunannya menuju level yang lebih rendah.
- Indikator RSI (Relative Strength Index):
- RSI saat ini berada di level 35,76, mendekati area oversold (<30), yang dapat mengindikasikan bahwa harga telah memasuki kondisi jenuh jual dan berpotensi untuk mengalami rebound teknikal. Namun, RSI yang berada di zona ini tidak selalu menjamin harga akan segera berbalik arah, tetapi lebih menunjukkan bahwa tekanan jual mungkin sudah berkurang.
- Tren Menurun Jangka Panjang:
- Perhatikan bahwa harga telah membentuk lower highs dan lower lows, yang menunjukkan tren menurun yang konsisten. Saluran tren (trendline) menurun yang terlihat dari pergerakan harga juga menunjukkan adanya resistensi dinamis yang kuat.
Prediksi: Apakah Harga Akan Rebound?
- Skenario Rebound: Jika harga berhasil menahan diri di atas level support kritis sekitar $68,45 – $67,70 dan terjadi pembalikan sentimen di pasar (misalnya, kebijakan OPEC+ terkait pemangkasan produksi atau pemulihan permintaan dari Tiongkok), kita bisa melihat potensi rebound teknikal. Selain itu, RSI yang mendekati level oversold menambah kemungkinan adanya relief rally (kenaikan sementara) sebelum melanjutkan tren turun.
- Skenario Bearish (Penurunan Lanjutan): Jika tekanan jual tetap kuat dan level support di $67,70 ditembus dengan volume yang tinggi, harga bisa terus bergerak turun menuju level yang lebih rendah. Pada titik ini, tidak adanya faktor pendukung fundamental yang kuat, seperti kenaikan permintaan atau pengurangan pasokan, bisa menyebabkan harga terus terperosok.
Kesimpulan:
Potensi rebound ada, terutama jika harga berhasil menahan support di sekitar $67,70 dan RSI menunjukkan adanya pembalikan momentum. Namun, secara keseluruhan, tren masih bearish, dan konfirmasi rebound hanya akan terjadi jika ada katalis eksternal atau fundamental yang mendukung, seperti perubahan kebijakan OPEC+ atau perbaikan permintaan global.
Tindakan yang tepat adalah menunggu konfirmasi dari sinyal pembalikan pada grafik harian atau berita fundamental yang positif sebelum mengambil posisi beli. Jika tidak, tren turun masih memiliki momentum yang kuat. Disclaimer On!





