Serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis sejak awal pekan ini menunjukkan penguatan aktivitas sektor manufaktur dan jasa, sekaligus menegaskan bahwa tekanan inflasi di sektor produksi masih belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan emas dan perak dalam jangka pendek.

Pada Senin, 2 Februari 2026, indeks S&P Global Manufacturing PMI tercatat di level 52,4, lebih tinggi dari ekspektasi pasar dan menandakan ekspansi sektor manufaktur AS yang solid. Sementara itu, ISM Manufacturing PMI melonjak ke 52,6, jauh di atas proyeksi 48,5 dan angka sebelumnya 47,9, mengindikasikan pemulihan yang lebih kuat dari perkiraan.
Tekanan harga juga masih terasa, tercermin dari ISM Manufacturing Prices yang naik ke 59,0, memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi di sisi produsen masih menjadi perhatian Federal Reserve.
Momentum penguatan data berlanjut pada Rabu, 4 Februari 2026, meskipun tidak sepenuhnya seragam. ADP Nonfarm Employment Change hanya mencatat 22 ribu, jauh di bawah ekspektasi pasar, memberikan sinyal awal adanya perlambatan di pasar tenaga kerja. Namun di sisi lain, S&P Global Services PMI dan ISM Non-Manufacturing PMI tetap berada di zona ekspansi, masing-masing di 52,7 dan 53,8.
Tambahan sentimen datang dari data Crude Oil Inventories yang menunjukkan penurunan sebesar -3,455 juta barel, lebih dalam dari perkiraan, menandakan permintaan energi yang masih cukup kuat.
Fokus dua hari ke depan data tenaga kerja as jadi penentu arah pasar, pasar kini bersiap menghadapi dua hari krusial, yang berpotensi memicu lonjakan volatilitas di pasar keuangan global, termasuk emas dan perak.
Pada Kamis, 5 Februari 2026, perhatian tertuju pada:
- Initial Jobless Claims, yang diperkirakan naik ke 212 ribu
- JOLTS Job Openings, dengan proyeksi 7,146 juta
- Unemployment Rate AS (Januari) yang diproyeksikan tetap di 4,4% pada Jumat, 6 Februari 2026.
Rangkaian data ini akan menjadi tolok ukur utama bagi pelaku pasar untuk menilai kesehatan pasar tenaga kerja AS, sekaligus arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Emas dan perak pulih, namun risiko volatilitas masih membayangi, di tengah derasnya arus data ekonomi tersebut, harga emas dan perak melanjutkan pemulihannya. Pada perdagangan Rabu, kedua logam mulia ini mencatat kenaikan lanjutan, meskipun arah selanjutnya masih sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar dolar AS dan ekspektasi suku bunga.
Pemulihan ini terjadi setelah pasar mengalami guncangan ekstrem pada akhir pekan lalu, di mana harga emas sempat terkoreksi hampir 10% dalam satu hari, sementara harga perak runtuh hingga sekitar 30%, mencatatkan kinerja harian terburuk sejak tahun 1980.
Rebound tajam tersebut menunjukkan adanya buying interest yang kuat di level bawah, namun sekaligus menegaskan bahwa pasar masih berada dalam fase rawan gejolak.

Outlook data AS jadi kunci arah logam mulia, dengan kombinasi data ekonomi AS yang relatif kuat, tetapi dibayangi tanda-tanda awal perlambatan tenaga kerja, pasar emas dan perak berada di persimpangan penting. Data tenaga kerja dua hari ke depan berpotensi menjadi katalis utama apakah pemulihan harga akan berlanjut, atau justru kembali tertekan oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Bagi pelaku pasar, manajemen risiko dan kewaspadaan terhadap volatilitas menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika emas dan perak pada paruh awal Februari 2026 ini. Disclaimer On!





