Pada hari Rabu, 04 Oktober 2023 harga emas terus mengalami penurunan untuk sesi kedelapan secara berturut-turut. Hal ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil Treasury AS, sementara ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama terus membebani sentimen investor.
Imbal hasil obligasi AS dengan tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 16 tahun. Hal ini membuat aset non-yielding seperti emas menjadi kurang menarik bagi investor. Dalam skenario di mana The Fed terus mempertahankan suku bunga pada level ini, harga emas diprediksi akan terus berada di bawah tekanan. Bahkan, ada perkiraan bahwa harga bisa turun hingga $1.750 jika berhasil menembus di bawah $1.800.
Meskipun harga emas mengalami kenaikan awal sesi setelah data gaji swasta AS menunjukkan pertumbuhan yang lebih kecil dari perkiraan pada bulan September, sektor jasa AS melambat dengan pesanan baru mencapai level terendah dalam sembilan bulan. Meskipun demikian, laju tersebut tetap konsisten dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang solid pada kuartal ketiga.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 24% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi dari The Fed tahun ini, menurut alat CME FedWatch.
Fokus selanjutnya akan tertuju pada laporan non-farm payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat, yang diharapkan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai jalur kenaikan suku bunga Fed. Jika laporan ketenagakerjaan menunjukkan kelemahan, ini dapat memberikan dorongan pada harga emas untuk menguat. Meskipun demikian, risiko penurunan kemungkinan akan tetap ada karena titik awal bagi pendorong utama harga emas masih belum pasti.
Dalam kondisi ini, Pemulihan harga emas mungkin dapat diantisipasi seiring berjalannya waktu, tetapi tetap perlu memperhitungkan ketidakpastian yang masih ada dalam pasar. Emas yang mengalami penurunan untuk sesi kedelapan berturut-turut di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dapat dianalisis dengan beberapa faktor:
- Dampak Kenaikan Suku Bunga terhadap Emas:
Kenaikan suku bunga cenderung membuat aset berbunga tetap seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas, yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Investor lebih suka aset yang memberikan pendapatan pasif, seperti obligasi dengan bunga tinggi, ketika suku bunga naik, dan ini dapat mengurangi permintaan terhadap emas.
- Penguatan Dolar:
Kebijakan kenaikan suku bunga oleh Fed dapat memperkuat mata uang Amerika Serikat (USD). Emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan dolar, sehingga penguatan dolar dapat memberikan tekanan tambahan pada harga emas.
- Sentimen Pasar:
Antisipasi pasar terhadap kenaikan suku bunga atau kebijakan ketat dapat menciptakan sentimen negatif terhadap aset non-bunga, termasuk emas. Investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman dan stabil selama periode ketidakpastian ekonomi.
- Prospek Ekonomi Global:
Kenaikan suku bunga oleh Fed dapat mencerminkan keyakinan dalam pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Jika prospek ekonomi global terlihat positif, investor mungkin lebih condong ke aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, dan ini dapat merugikan emas.
- Analisis Teknikal:
Pergerakan harga emas juga dapat dipengaruhi oleh analisis teknikal, seperti level-level support dan resistance. Jika emas telah melewati level-level penting ke bawah, ini dapat memicu lebih banyak penjualan oleh pedagang dan algoritma perdagangan.
- Faktor-faktor Geopolitik:
Geopolitik dan ketidakpastian global juga dapat mempengaruhi emas. Namun, jika kenaikan suku bunga dipandang sebagai respons terhadap perkembangan positif dalam masalah geopolitik, ini dapat memberikan dorongan tambahan pada emas.
Dalam menganalisis penurunan harga emas, penting untuk mempertimbangkan hubungan kompleks antara faktor-faktor ekonomi, kebijakan moneter, dan dinamika pasar global secara keseluruhan.





