Harga minyak mengalami kenaikan selama tiga minggu berturut-turut setelah OPEC dan sekutunya mengejutkan pasar dengan mengurangi produksi, dan hal ini dipicu oleh penurunan persediaan minyak di Amerika Serikat yang membuat pasar semakin bullish.
OPEC dan sekutunya (dikenal sebagai OPEC+) adalah sekelompok negara produsen minyak terbesar di dunia yang bekerja sama untuk mengatur pasokan minyak mentah ke pasar global. Pada bulan-bulan sebelumnya, mereka telah meningkatkan produksi minyak untuk memenuhi permintaan yang meningkat seiring pemulihan ekonomi global dari pandemi COVID-19.
Namun, pada bulan Maret 2022, OPEC+ mengumumkan bahwa mereka akan mengurangi produksi sebesar 350.000 barel per hari pada bulan April dan 400.000 barel per hari pada bulan Mei. Hal ini membuat pasar terkejut dan memicu kenaikan harga minyak mentah.
Selain itu, penurunan persediaan minyak di Amerika Serikat juga menjadi faktor yang membuat pasar semakin bullish. Ketika persediaan minyak menurun, hal ini dapat menunjukkan permintaan yang meningkat atau produksi yang berkurang, sehingga dapat memicu kenaikan harga minyak.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas $80 per barel dan mengalami kenaikan sebesar 6% pada hari Senin, dengan kontrak berjangka minggu ini mempertahankan kenaikan tersebut. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar dalam setahun setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya memutuskan untuk memangkas produksi lebih dari satu juta barel per hari mulai bulan depan.
OPEC dan sekutunya (dikenal sebagai OPEC+) bertemu pada awal Oktober 2021 dan memutuskan untuk memangkas produksi minyak mentah secara bertahap mulai November 2021 hingga September 2022. Pada pertemuan terbaru pada akhir November 2021, mereka memutuskan untuk memperpanjang kesepakatan tersebut hingga akhir April 2022.
Keputusan tersebut mengejutkan pasar dan memicu kenaikan harga minyak mentah. Arab Saudi, sebagai produsen minyak terbesar di OPEC, juga telah menaikkan harga semua penjualan minyaknya ke pelanggan di Asia. Ini dapat mengindikasikan bahwa kebijakan OPEC+ untuk memangkas produksi telah memengaruhi pasokan minyak mentah di Asia dan meningkatkan harga minyak di wilayah tersebut.
Harga minyak mentah telah naik sekitar 25% sejak pertengahan Maret setelah jatuh ke level terendah dalam 15 bulan akibat krisis perbankan yang mendorong pelarian dari aset beresiko. Langkah OPEC+ mengambil beberapa short seller spekulatif, mendorong harga lebih tinggi, dan ekspektasi pemulihan permintaan dari China, menyusutnya persediaan minyak di AS, serta pelemahan dolar, semuanya juga membantu mengangkat daya tarik komoditas.
Pada pertengahan Maret, harga minyak mentah mengalami penurunan drastis karena pandemi COVID-19 yang masih berlangsung memicu krisis perbankan dan mengakibatkan pelarian dari aset berisiko. Hal ini juga memicu turunnya harga minyak mentah, yang mencapai level terendah dalam 15 bulan.
Namun, sejak itu, harga minyak mentah telah mengalami kenaikan yang signifikan. Langkah OPEC+ untuk memangkas produksi telah membantu memperkuat harga minyak mentah dengan mengurangi pasokan minyak di pasar global. Selain itu, ekspektasi pemulihan permintaan dari China, yang merupakan konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia, juga membantu memicu kenaikan harga.
Selain itu, penurunan persediaan minyak di AS dan pelemahan dolar juga membantu mengangkat daya tarik komoditas, termasuk minyak mentah. Ketika persediaan minyak menurun, hal ini dapat menunjukkan permintaan yang meningkat atau produksi yang berkurang, sehingga dapat memicu kenaikan harga. Pelemahan dolar juga dapat membuat minyak mentah lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.
Stok minyak mentah komersial nasional AS turun 3,7 juta barel pada pekan lalu, menurut data Administrasi Informasi Energi. Selain itu, persediaan minyak turun, sementara stok di pusat penyimpanan minyak di Cushing, Oklahoma, juga mengalami kontraksi.
Data dari Administrasi Informasi Energi menunjukkan bahwa stok minyak mentah di AS turun 3,7 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini menunjukkan bahwa permintaan untuk minyak mentah di AS meningkat atau produksi minyak mentah di AS berkurang. Selain itu, persediaan minyak kategori yang mencakup diesel juga turun, yang menunjukkan bahwa permintaan untuk produk-produk bahan bakar juga meningkat.
Selain itu, stok di pusat penyimpanan minyak di Cushing, Oklahoma, juga mengalami kontraksi. Cushing adalah pusat distribusi minyak mentah di AS dan merupakan lokasi dari salah satu pasar futures minyak mentah terbesar di dunia. Kontraksi stok di Cushing dapat membantu memperkuat harga minyak mentah karena menunjukkan bahwa pasokan minyak mentah di lokasi strategis ini berkurang.
James Whistler, direktur pelaksana broker Vanir Global Markets Pte, menyatakan bahwa pemotongan produksi OPEC yang tidak terduga adalah sinyal kuat bahwa mereka bertekad untuk mempertahankan harga di atas angka $80. Whistler juga mengatakan bahwa tidak ada ancaman nyata yang bisa dilakukan oleh seluruh dunia untuk mengatasi situasi ini, karena produksi minyak di tempat lain tidak bisa secara signifikan meningkat dalam waktu dekat.
Pernyataan Whistler mencerminkan pandangan beberapa ahli bahwa pemotongan produksi OPEC+ akan membantu memperkuat harga minyak mentah, karena akan mengurangi pasokan di pasar global. Meskipun produksi minyak mentah di luar OPEC+ mungkin meningkat, tetapi tidak cukup besar untuk menyeimbangkan pasar.
Namun, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah, termasuk permintaan pasar, produksi minyak mentah, dan faktor-faktor geopolitik, yang dapat berubah dengan cepat. Sebagai investor, penting untuk memantau perkembangan di pasar minyak mentah secara teratur dan menilai risiko yang terkait dengan investasi dalam sektor ini.





