Emas mengalami penurunan yang signifikan karena sikap Federal Reserve yang lebih hawkish (cenderung menaikkan suku bunga), dan pasar sedang menantikan hasil ujian inflasi yang akan segera dilaporkan.
Harga emas mencapai level terendah dalam enam bulan pada hari Kamis, dipicu oleh spekulasi bahwa suku bunga di Amerika Serikat akan naik lebih tinggi dan bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang biasanya digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Para pedagang juga tengah memantau hasil data inflasi minggu ini, yang diharapkan dapat memberikan petunjuk mengenai strategi yang akan diambil oleh Federal Reserve.
Kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dapat melemahkan daya tarik emas sebagai alat lindung nilai terhadap inflasi, dan ini juga meningkatkan biaya kesempatan (opportunity cost) untuk memegang emas yang tidak menghasilkan bunga. Di samping itu, imbal hasil dari surat utang pemerintah AS (Treasury) telah mencapai level tertinggi dalam 16 tahun, yang semakin mengurangi daya tarik emas dengan tingkat imbal hasil yang mendekati nol.
Walaupun demikian, pelemahan dolar AS membantu membatasi penurunan lebih lanjut harga emas, karena hal ini membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi pembeli di luar negeri. Emas juga tidak merespons secara signifikan terhadap data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat di kuartal kedua, serta laporan mengenai klaim pengangguran awal yang sedikit lebih rendah dari perkiraan.
Tetapi, masih belum jelas apakah Federal Reserve telah selesai dalam upayanya untuk menaikkan suku bunga. Investor sekarang lebih fokus pada data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang merupakan ukuran inflasi pilihan bagi Federal Reserve dan akan diumumkan pada hari Jumat. Kemungkinan hasil dari data PCE akan mempengaruhi kebijakan bank sentral terkait suku bunga di masa depan, semoga bermanfaat. Disclaimmer On! harus extra hati-hati dalam trading karena berpontensi mengalami kerugian.





